Apalah saya ini kasihan

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh,

     Di pagi hari setelah sholat subuh dipertengahan bulan ramadhan, saya mengajar mengaji ibu-ibu di masjid yang jumlahnya sekitar 18 sampai 20 an, karena ini adalah rutinitas setiap harinya di bulan Ramadhan untuk menghatamkan  Al-Quran 1 kali pada bulan tersebut.

      Pembelajaranpun berlangsung hingga satu jam lebih kedepannya, dan setelah dibaca 1 juz pada beberapa putaran maka sesi selanjutnya yaitu pengambilan foto dokumentasi, yang mana biasanya selaku pembimbing yang memfoto tapi kali ini pembimbing pun diminta untuk ikut berfoto.

       Sementara perapian tempat duduk untuk pengambilan foto, saya ambil jarak agak jauh dari ibu-ibu (rombongan) dan duduk ditenga, salah satu ibu berucap “jangan maki jauh-jauh ustadz, dekat-dekat maki !! Karena kami ini sudah seperti orang tau ta’ , tapi bisa ji juga kalau mauki jadi anak betulan ku, ada anakku gadis” yang sampinbnya juga berucap “saya juga ustadz ada anak gadisku dua, siapa tau mauki” dengan kalimat yang masih sama maknanya, saya agak mulai malu sama ibu-ibu. Kemudian yang ketiga berucap lagi salah satu ibu yang agak dekat rumahnya dari masjid “saya mi dulu ustadz ada juga anak gadisku dua, jangan jangan Ki lumbaika ibu-ibu”

       Disitu saya semakin malu, sementara difoto, hati saya berucap “makasih banyak ibu-ibu yang telah mengatakan itu semua walaupun mungkin ada yang bercanda ataupun serius, apalah saya ini kasihan hanyalah manusia biasa biasa saja, berasal dari keluarga yang sederhana, beda dengan ibu-ibu yang taraf hidupnya diatas standar kami”

Darah juang

Disini negeri kami

Tempat padi terhampar

Samudranya kaya raya

Tanah kami subur Tuhan

Di negeri permai ini

Berjuta rakyat tersimpa luka

Anak buruh tak sekolah

Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapang

Bunda relakan darah​ juang kami

Untuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapang

Bunda relakan darah juang kami

Padamu kami berbakti

Padamu kami berjanji

kabajikang rung kakodiang

Nakana tau mangkasaraka

“Tena tau ampake ngasengi kabajikanga

Tena tong tau ampake ngasengi ka kodianga 

Massing massing tau niaki ri batangkalenna kabajikanga rung ka kodianga, battu ri se’rea rupa tau mami, ante kamma ero’ na gaukang untuk Batang kalenna.

Ikatte tau lebbaka anggaukang ka kodiang, teaki tappu’ harapangngi mange ri kabajikanna Puang Allah Ta’ala, nasaba’ Allah Ta’ala sanna’ pammopporanna mange ri atanna na sanna’ pangngainna Mae ri katte ngaseng.

ولا تيءسوا من روح الله

Dan janganlah engkau berputus asa dari Rahmat Allah.

Mengenal bahiirah, saaibah, washiilah dan haam



        Unta atau Onta adalah dua spesies hewan berkuku belah dari genus Camelus (satu berpunuk tunggal – Camelus dromedarus, satu lagi berpunuk ganda – Camelus bactrianus) yang hidup ditemukan di wilayah kering dan gurun di Asia dan Afrika Utara. Rata-rata umur harapan hidup unta adalah antara 30 sampai 50 tahun.
         Domestikasi unta oleh manusia telah dimulai sejak kurang lebih 5.000 tahun yang lalu. Pemanfaatan unta antara lain untuk diambil susu (yang memiliki nilai nutrisi lebih tinggi daripada susu sapi) serta dagingnya, dan juga digunakan sebagai hewan pekerja.

        Nah, sesuai dengan judul artikel di atas pada kesempatan ini penulis akan menjelaskan perbedaan “bahiirah, saaibah, washiilah dan haam” 

        1. Bahiirah adalah unta betina yang telah beranak lima kali dan anak yang kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil air susunya.

         2. Saaibah adalah unta betina yang dibiarkan pergi kemana saja lantaran suatu nazar. Seperti, jika seorang Arab jahiliah akan Melakukan sesuatu atau perjalan yang berat, maka dia biasa bernazar akan menjadikan untanya saaibah apabila maksud atau perjalannya berhasil dan selamat.

         3. Washiilah adalah seekor domba betina yang melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak boleh disembelih dan diserahkan kepada berhala. Atau dengan kata lain washiilah adalah seekor domba jantan yang dilahirkan dalam keadaan kembar dan kembarannya adalah betina.

         4. Haam adalah unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah telah dapat membuntingkan (menghamili) unta betina sepuluh kali. 

Perlakuan terhadap bahiirah, saaibah, washiilah dan haam ini adalah kepercayaan Arab jahiliah, dan Allaah tidak pernah mensyariatkan adanya ke empat peristiwa tersebut.

Sebagaiman firman Allaah dalam al- quran surah Al maaidah ayat 103 :

مَا جَعَلَ اللّٰهُ مِنْۢ بَحِيْرَةٍ وَّلَا سَآئِبَةٍ وَّلَا وَصِيْلَةٍ وَّلَا حَامٍ  ۙ  وَّلٰـكِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْـكَذِبَ    ؕ  وَاَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ

“Allah tidak pernah mensyariatkan adanya Bahirah, Sa’ibah, Washilah, dan Ham. Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.”

(QS. Al-Ma’idah: Ayat 103)
* Via Al-Qur’an Muslimah https://goo.gl/hWQsvK

*Al-Quran tarjama dan tajwid warna Al-majid

*wikipedia

Politisi Islam

Salah satu persoalan yang menjadi kendala berkiprahnya politik Islam adalah dominannya pandangan sekularisme yang memisahkan agama dengan kehidupan masyarakat, negara dan politik. Ditambah lagi sikap miring terhadap politik yang belum sepenuhnya pupus. Akibatnya, muncul kesalahpahaman terhadap politik Islam, termasuk para politisinya.

Para politisi Muslim akhirnya lebih membawakan dirinya sebagai politisi yang berbaju sekuler daripada sebagai politisi yang mendasarkan pendapat dan sikapnya atas dasar Islam. Karenanya, perlu semakin menghujamkan politik Islam dan cara berpikir politiknya ke dalam tubuh kaum Muslim.

Harapannya, akan bermunculan para politisi dan orang Orang yang paham politik Islam sebagai politisi transformatif yang berupaya mewujudkan kehidupan Muslim.

 
@menjadi pemikir & politisi Islam.

mimpi yang dirindukan

Sepulang dari sholat shubuh saya menuju kamar dan melanjutkan tidur, sesaat tidur terjadi suatu peristiwa yang sangat menghangatkan hati bagi yang memahami betapa dahsyatnya sebuah perasaan terpendam kepada seseorang.

      Saat itu saya lewat di depan sebuah ruangan perkuliahan tempat dimana ia belajar, tiba-tiba muncul seorang perempuan yang menghampiri saya dan memberikan sepucuk surat seraya berkata dalam surat tersebut bahwa “akhiy, ini surat dari saya (katanya) mohon dibaca dengan baik” saya pun dengan sangat gembira menerima surat itu dan membaca secara perlahan, isi surat itu kurang lebih seperti ini dan saya masih sangat ingat, “akhiy, saya sudah tau bahwa dari dulu kita punya perasaan sama saya dan sayapun sama seperti kita, saya tau ini adalah masalah perasaan dan tidak bisa saya sembunyikan lagi karena memang sudah beberapa tahun yang lalu saya memendam persaan ini, kalau misalkan kita memang betul-betul serius maka saya punya cara bagaimana kalau misalkan setelah kita selesai study bersama kemudian akhiy mendatangi orang tuaku untuk meminta restu darinya terhadap akan hubungan kita kedepannya”.

     Dengan hati yang berdebar-debar Saya melihat ke arah kelas dan melihatnya agak sedikit kelihatan dibalik pintu sembari memperhatiakn saya dari jauh, dia berdiam diri disana dan tidak mau memperlihatkan badannya secara keseluruhan karena dia termasuk orang yang paham dalam agama.
    

Bersambung…